Nov 14, 2010

Menghadapi Pupuk Impor


Kondisi makin meningkatnya defisit ( kekurangan) dalam memenuhi kebutuhan unsur hara pupuk, baik jenis maupun jumlah, dari tahun ke tahun diketahui makin besar. Bagi Indonesia pun, upaya pemenuhannya masih mengandalkan sebagian makro primer ( fosfor, Kalium) dan makro sekunder ( Mg, Ca, S) dan mikro element) dari sumber impor. Kebutuhan pupuk dalam negeri, yang berasal dari impor, diantaranya jenis pupuk dalam bentuk Phosphates ( P2O5) , kalium ( K2O) , hara makro sekunder antaranya Magnesium atau kieserite ( Mg) , Sulfur ( S) , Calcium ( Ca) dan mikro elemen ( Fe, Zn, Mo, B, Bo) . Sejauh ini pupuk - yang sepenuhnya merupakan produksi dalam negeri hanyalah unsur Nitrogen dalam bentuk pupuk Urea - Diaminomethanal ( NH2) 2CO- dan sebagian kecil pupuk SP dari sumber deposit -yang tersebar dalam jumlah kecil ( spot deposit) di Jawa bagian Selatan dan daerah lainnya.

Ketersediaan pupuk kimia - sebagai sumberdaya tidak terbarukan ( unrenuwable) sementara, dilain pihak, penggunaannya makin meningkat, telah dan akan mendorong peningkatan harga secara terus menerus. Bahkan ancaman defisit, antara kebutuhan unsur hara pupuk dengan ketersediaan, tanpa antisipasi yang memadai sejak saat ini diprediksi akan makin besar dimasa-masa mendatang.

Belum berjalannya konsep pemupukan spesifik lokasi, yakni teknik asupan hara berdasar kondisi kesuburan lahan di masing-masing lokasi ( spesifik lokalita) , juga telah memberi sumbangan pada menaiknya kebutuhan pupuk. Pemakaian dosis pupuk pun berjalan dengan tidak bijaksana. Walaupun telah menjadi kebijakan pemerintah sejak lama, dan diyakini akan meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus mengurangi pemakaian pupuk – petani dan pelaksana pemerintahan di lapangan pada umumnya belum menjalankan pola pemupukan spesifik lokalita tersebut.

Bahkan lebih jauh, kondisi yang ada memperlihatkan kalau sebagian besar petani Indonesia – diluar sebagian kecil pengusaha perkebunan dan perusahaan agribisnis- masih memiliki ketergantungan bahwa pupuk adalah urea ( urea minded) serta belum memiliki akses yang memadai terhadap penguasaan data dan informasi kesuburan lahan tempat pengusahaan pertaniannya. Tanpa pemupukan spesifik lokasi, untuk mengejar produktivitas yang sama akan dibutuhkan rataan asupan dosis pupuk yang makin meningkat, dan sejalan dengan itu pencemaran lingkungan tanah pertanian pun makin tinggi. Bertambahnya lahan kritis tercemar pupuk kimiawi akibat dosis tinggi, berpindahnya bahan organik ke kota tanpa pengembalian dari material sisa konsumsi manusia serta pengalih fungsian lahan akan mengancam pada produksi pangan dan hasil pertanian nasional dimasa datang.

Pola pertanian Indonesia - dan umumnya di negara berkembang- yang memanen dan mengirim seluruh bagian tanaman ke pusat konsumsi ( kota) juga berperanan dalam peningkatan kerusakan lahan pertanian akibat kekurangan bahan organik ( C Organik) tanah pertanian di desa. Material sisa ( sampah) tanaman yang tidak termakan manusia, di sortir di pasar, di dapur dan pusat perbelanjaan di kota, telah membentuk kumpulan sampah organik dan kemudian menjadi masalah sampah di kota. Sementara lain, pada saat sama, lahan pertanian di desa tidak memiliki bahan cukup bagi pemenuhan sumber organik ( C Organik) . Dengan demikian telah terjadi pemiskinan hara lahan pertanian, dan seiring waktu tingkat kesuburan tanah pertanian Indonesia menurun.

Pencemaran dan kerusakan lahan di pertanian pun makin meningkat sejalan dengan penggunaan dosis tinggi pupuk kimia oleh para petani. Dosis rekomendasi Balai Penelitian Padi untuk 1 Ha padi 250 kg telah diasupi Urea hingga 500 Kg oleh para petani yang mempersepsikan tanaman harus hijau.

Beberapa Kementerian dan Kepala Daerah telah menyadari dan berupaya melakukan pencegahan pencemaran serta kerusakan lahan, antaranya melalui program rehabilitasi lahan dan kehutanan ( GN RHL) . Nmaun, disadari tingkat keberhasilannya akan tinggi apabila ditunjang oleh pemupukan yang baik. Dilain pihak, persoalan klasik mengenai kelangkaan serta terjadinya lonjakan harga pupuk setiap kali musim tanam seringkali masih terjadi. Padahal produksi pupuk buatan industri kecil dan menengah buatan dari para anggota APPKMI - yang meliputi Pupuk Organik, Organik bentuk granul dan cairan, pupuk majemuk, NPK, Kompos, Pupuk Tunggal dapat menjadi pelengkap dari produk pupuk buatan industri besar BUMN. Bagi industri besar, hal ini tentunya tidak pula menjadi ancaman dan saingan, karena sebagian produsen pupuk anggota APPKMI masih tetap menggunakan pupuk hasil industri besar sebagai bahan dasar.

Dalam rangka partisipasi pengusaha pupuk dalam pembangunan pertanian, perkebunan dan kehutanan, telah dilakukan upaya untuk mempererat serta mempersatukan visi dan misinya dalam wadah Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia ( APPKMI) . Dalam Appkmi berhimpun para pengusaha bidang pupuk, organik dan anorganik, alat mesin pembuatan pupuk organik serta produsen mesin kompos.

No comments:

Musda Askkindo Jawa Barat

Musda Askkindo Jawa Barat
Bertempat di Grha Kadin Kota bandung berlangsung Musda Asosiasi Konsultan Non Konstruksi (ASKKINDO) Jawa Barat. Formateur akhirnya menetapkan kembali memilih Sonson Garsoni menjadi Ketua periode 2007 -2011

Musda APPKMI, 2007

Musda APPKMI, 2007
Bertempat di Grha Kadin, Musyawarah APPKMI ( Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia) Jawa Barat berlangsung. Tampak Ir Lex Laksamana- Sekda Prov Jawa Barat bersama Ir Sonson Garsoni- Ketua APPKMI terpilih untuk ke-2 kalinya.

Musda APPKMI

Musda APPKMI
There are more than 175 fertilizer producers joining appkmi as Association for Small and Medium Indonesia Fertilizer Industry. Most of them are medium and small scale industry companies wich produce many kind fertilizer such as Tablet Urea ( Nitrogen 46 %), Liquid Foliar Fertilizers, Complete Compound Fertilizer Tablet, Complete Compound Fertilizer Specific Tablet, Complete Compound Fertilizer Prilled, Organic Compost Fertilizer, Organic Fertilizers and also included natural fertilizer natural Bat Guano, Natural Pesticide, Feed Suplement, ect.

Rapat Pengurus AKU Jawa Barat

Rapat Pengurus AKU Jawa Barat
Membahas kelangsungan Usaha Mikro UPPKS ( Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera) dibahas pengurus secara rutin di Sekretariat AKU.

Pendirian ASKKINDO

Pendirian ASKKINDO
Deklarasi ASKINDO dilakukan pada tanggal 25 Nopember 2002 di Hotel Panghegar, Jl. Merdeka No 2, Bandung dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh 50 peserta dari 26 perusahaan. Sedangkan pengesahan badan hukumnya dilakukan didepan notaris Ano Muhamad Nasrudi,SH, dengan akta nomor 1, tanggal 3 Pebruari 2003

Asosiasi Benih Bibit Indonesia ( ASBBINDO)

Asosiasi Benih Bibit Indonesia ( ASBBINDO)
Bertempat di Bandung, dideklarasikan pendirian Asosiasi benih Bibit Indonesia (Asbbindo) Jawa Barat, 1999

Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia (APPKMI) Jawa Barat

Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia (APPKMI) Jawa Barat
Bertempat di Hotel Homann, berlangsung pendirian Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia (APPKMI) Jawa Barat, 2000

Raker Asosiasi Kelompok UPPKS (AKU)

Raker Asosiasi Kelompok UPPKS (AKU)
Bertempat di grand Hotel Lembang berlangsung Rapat Kerja Asosiasi Kelompok UPPKS (AKU) Jawa Barat diikuti oleh pengurus AKU Kab/Kota se Jawa Barat. AKU Jawa Barat dengan anggota lebih dari 52.000 kelompok usaha mikro berusaha terus eksis ditengah kesulitan usaha didera oleh berbagai kenaikan harga bahan baku dan penolong. Ir Sonson Garsoni- Ketua AKU Jawa Barat menyampaikan sambutan pada Rakerda AKU, th 2004

AgroSight 2000 Di Gasibu Bandung

AgroSight 2000 Di Gasibu Bandung
Berbagai event bisnis berupa pameran (Expo), seminar dan Rapat Pendirian Asosiasi berlangsung di Gasibu dan Aula Dinas Pertanian, TH 2000. Event yang diselenmggarakan oleh gabungan Asosiasi bisnis sektor pertanian Jawa Barat ( Appkmi, Asbbindo, Alsintani) ini diorganizing oleh PT. Paska KONSULTAN- suatu business services di Bandung.

Video Aktivitas Asosiasi

Loading...

Video Pemasaran Produk Kreatif Bandung

Loading...

Forum Diskusi on Facebook

KencanaOnline.Com on Facebook

Search This Blog